Nasionalisme Generasi Muda Dinilai Menurun, Indonesia Hadapi Tantangan Krisis Identitas Bangsa

Nasionalisme Generasi Muda Dinilai Menurun, Indonesia Hadapi Tantangan Krisis Identitas Bangsa.

Kabar1lamongan.com — Fenomena menurunnya rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda mulai menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Arus globalisasi, dominasi media sosial, hingga lemahnya keteladanan elite dinilai menjadi faktor utama yang perlahan mengikis semangat nasionalisme masyarakat Indonesia.

Sejumlah survei dan penelitian menunjukkan adanya kekhawatiran publik terhadap kondisi ideologi kebangsaan saat ini. Survei Populix tahun 2023 mencatat sekitar 65 persen masyarakat menilai nasionalisme generasi muda mengalami penurunan. Bahkan dari kelompok Gen Z sendiri, mayoritas responden mengakui adanya perubahan sikap terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Fenomena tersebut terlihat dari mulai rendahnya minat generasi muda terhadap sejarah nasional, budaya lokal, hingga wawasan kebangsaan. Di sisi lain, budaya populer asing justru semakin mendominasi ruang digital dan kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia.

Tidak hanya itu, sejumlah data juga menunjukkan masih banyak generasi muda yang dinilai kurang memahami dasar ideologi bangsa. Dalam berbagai kajian yang beredar, ditemukan adanya penurunan kepedulian terhadap kondisi bangsa, rendahnya literasi Pancasila, serta meningkatnya sikap individualisme di tengah masyarakat.

Pengamat sosial menilai kondisi ini tidak bisa hanya disalahkan kepada generasi muda semata. Negara dinilai belum maksimal menghadirkan pendidikan kebangsaan yang relevan dengan perkembangan zaman digital. Pendidikan nasionalisme selama ini dianggap terlalu formal dan sebatas hafalan, tanpa menyentuh kesadaran kritis serta pengalaman sosial nyata.

Selain itu, krisis keteladanan elite politik juga disebut menjadi faktor yang memperparah lunturnya rasa cinta tanah air. Maraknya kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketimpangan hukum membuat sebagian masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi negara.

Gambar: Infografis Nasionalisme.

“Nasionalisme tidak cukup dibangun lewat slogan atau seremoni semata. Rakyat membutuhkan keadilan, kesejahteraan, dan keteladanan nyata dari para pemimpin,” ujar salah satu pengamat pendidikan kebangsaan.

Di era digital saat ini, media sosial menjadi ruang utama pembentukan pola pikir generasi muda. Namun sayangnya, ruang digital lebih banyak dipenuhi konten hiburan, konflik politik, hingga budaya konsumtif dibanding edukasi kebangsaan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia dikhawatirkan menghadapi krisis identitas nasional dalam jangka panjang. Lunturnya nasionalisme dapat memicu meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, hingga melemahnya persatuan bangsa.

Meski demikian, sejumlah survei lain masih menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tetap mendukung nilai Pancasila dan persatuan nasional. Artinya, semangat kebangsaan masih ada, namun membutuhkan penguatan serius agar tidak terus mengalami penurunan.

Berbagai pihak mendorong pemerintah untuk memperkuat pendidikan karakter, memperluas literasi digital, mendukung budaya lokal, serta menghadirkan keteladanan kepemimpinan yang bersih dan berpihak kepada rakyat.

Sebab pada akhirnya, menjaga nasionalisme bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa demi menjaga masa depan Indonesia. (**)

Berita Opini oleh Kepala FKBN Bakorda Lamongan.