Pendidikan Jangan Hanya Mengajarkan “5 + 5 = 10,” Oleh FKBN Kabupaten Lamongan.
FKBNLamongan.com – Pendidikan di Indonesia sering kali dianalogikan seperti seorang anak yang diajarkan bahwa 5 + 5 = 10. Jawaban tersebut memang benar. Namun, persoalannya muncul ketika pendidikan berhenti pada kemampuan menemukan satu jawaban yang dianggap benar, tanpa memberikan ruang kepada anak untuk memahami bahwa angka 10 dapat diperoleh melalui banyak cara.
Angka 10 juga bisa ditemukan melalui:
8 + 2 = 10
20 ÷ 2 = 10
5 × 2 = 10
12 − 2 = 10
7 + 3 = 10
dan masih banyak kemungkinan lainnya.
Di sinilah letak makna pendidikan yang sesungguhnya.
Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat seseorang mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu memahami masalah, mencari alternatif, menguji kemungkinan, dan menemukan solusi.
Jika seorang anak hanya dibiasakan menjawab bahwa 5 + 5 = 10, ia mungkin menjadi pintar menghafal. Tetapi ketika menghadapi persoalan nyata yang tidak memiliki satu rumus sederhana, ia bisa kebingungan.
Sebaliknya, apabila anak diajarkan bahwa “10 dapat dicapai melalui banyak jalan”, maka ia akan belajar bahwa kehidupan pun demikian.
Untuk mencapai keberhasilan, seseorang tidak harus selalu menggunakan jalan yang sama.
– Ada yang menjadi dokter.
– Ada yang menjadi guru.
– Ada yang menjadi petani.
– Ada yang menjadi pengusaha.
– Ada yang menjadi teknolog.
– Ada yang menjadi seniman.
– Ada yang membangun usaha dari desa.
– Ada pula yang menciptakan profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada.
Tujuannya bisa sama, tetapi jalannya berbeda.

Karena itu, pendidikan yang maju bukan sekadar pendidikan yang menghasilkan anak dengan nilai ujian tinggi. Pendidikan yang maju adalah pendidikan yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kemampuan, kemampuan menjadi kreativitas, kreativitas menjadi solusi, dan solusi menjadi kemandirian.
Anak tidak seharusnya hanya ditanya:
“Berapa jawaban yang benar?”
Tetapi juga perlu ditanya:
“Bagaimana kamu mendapatkan jawaban itu?”
“Apakah ada cara lain?”
“Mengapa cara itu berhasil?”
“Bagaimana jika situasinya berubah?”
“Bisakah kamu menciptakan cara yang lebih baik?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang melatih critical thinking, problem solving, kreativitas, adaptasi, dan keberanian untuk berpikir mandiri.
Maka, tantangan pendidikan Indonesia bukan sekadar bagaimana membuat anak lebih banyak menghafal, tetapi bagaimana membuat anak mampu berpikir ketika tidak ada lagi jawaban yang tersedia di buku.
Sebab kehidupan tidak selalu memberikan soal:
5 + 5 = ?
Kadang kehidupan memberikan persoalan yang jauh lebih kompleks:
“Bagaimana caramu menghasilkan angka 10?”
Dan pada titik itulah kualitas pendidikan benar-benar diuji.

Pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan anak menemukan jawaban yang benar. Pendidikan yang baik mengajarkan anak bahwa sebuah tujuan dapat dicapai melalui banyak cara dan membekali mereka kemampuan untuk memilih, menciptakan, serta mempertanggungjawabkan cara tersebut. (*)
